KARYA YANG DIPUNGKIRI SEJARAH
Di malam larut, yang kesekian kalinya Di hari berkibarnya, yang kesekian kalinya Batin, masih menyeruak tentang fananya Sastra karena termakan arus peradaban Seperti termakan oleh zaman Geram tak tertahan, menunjuk para tiran Ketika sastra digerus waktu dan abad Mereka mulai mengada tentang ma’had Para tunas bangsa seolah mengabaikan Padahal krusial demi indahnya masa depan O, lagi-lagi harus menyalahkan tiran Walau pengaruhnya selain tiran Di dalam berputarnya kaleidoskop Mata-mata saling menatap Mengingat indahnya sastra dahulu kala O, rasanya ingin kembali ke sana Sajak ini hanya dipenuhi repetisi belaka Dengan peran memperindah suatu karya Namun, apakah mereka peduli dengannya Lagi-lagi, berbelit, tapi penuh makna Lantaran gawai mengisi cawan para tunas Betapa mirisnya melihat ia memeras Separuh hati ini membantah dan mencela Percaya bahwa masih ada penerusnya Bahasa nasional ini, s...