KARYA YANG DIPUNGKIRI SEJARAH
Di malam larut, yang kesekian kalinya
Di hari berkibarnya, yang kesekian kalinya
Batin, masih menyeruak tentang fananya
Sastra karena termakan arus peradaban
Seperti termakan oleh zaman
Geram tak tertahan, menunjuk para tiran
Ketika sastra digerus waktu dan abad
Mereka mulai mengada tentang ma’had
Para tunas bangsa seolah mengabaikan
Padahal krusial demi indahnya masa depan
O, lagi-lagi harus menyalahkan tiran
Walau pengaruhnya selain tiran
Di dalam berputarnya kaleidoskop
Mata-mata saling menatap
Mengingat indahnya sastra dahulu kala
O, rasanya ingin kembali ke sana
Sajak ini hanya dipenuhi repetisi belaka
Dengan peran memperindah suatu karya
Namun, apakah mereka peduli dengannya
Lagi-lagi, berbelit, tapi penuh makna
Lantaran gawai mengisi cawan para tunas
Betapa mirisnya melihat ia memeras
Separuh hati ini membantah dan mencela
Percaya bahwa masih ada penerusnya
Bahasa nasional ini, seakan pudar
Andai mereka tahu, kita dibesarkan olehnya
Mungkinkah, bahasa kita amat sukar
Kuharap mereka sadar kedepannya
Harapan generasi lama mereka sadar sesuatu
Bahasa dan sastra harus dilestarikan
Dijaga agar tetap memiliki mutu
Demi tunas di masa depan
Sidoarjo, 21 Oktober 2025
Josjhiss
BalasHapus